Dedikasi dan Perjuangan Santri Dalam Wisuda MQ

Oleh : Fbyan Lintang J Kelas IX Bahasa

Suatu hari, di pagi yang cerah pada tanggal 21 Desember 2025, Pondok Pesantren Madrasatul Qur’an mengadakan acara wisuda. Wisuda ini bukan sekadar prosesi kelulusan atau pelepasan. Melainkan bentuk pengapresiasian atas pencapaian hafalan 30 juz secara bil ghaib (tanpa melihat teks) yang sudah dilakukan oleh para santri.

Para santri yang telah menjadi wisudawan, tentu merasa sangat bergembira karena berhasil mengkhatamkan hafalan Alquran. Lalu, saat prosesi wisuda digelar, tangis haru pecah di antara para wisudawan dan orang tua mereka. Mereka tidak menyangka bahwa Alquran yang tebal itu akhirnya berhasil dihafalkan dengan lancar.

Suasana itu memang wajar. Karena para santri sendiri melewati proses yang tak mudah dalam menghafal surah demi surah Alquran. Setelah berhasil menghafal, para wisudawan harus membacakannya secara bergiliran. Seluruh santri mendapat bagian yang terbagi dalam beberapa tahap.

Tahap I, mulai dari 1–10 juz, Tahap II, mulai dari 11–20 juz, dan Tahap III mulai dari 21–30 juz. Dari seluruh tahap ini, para santri wisudawan harus mengahafalkannya dalam sekali duduk menggunakan mikrofon di hadapan orangtua.

Jika bacaan tersendat atau tidak lancar (mbulet), mereka harus mengulangnya dari awal. Bayangkan betapa beratnya rasa kecewa jika harus mengulang membaca 10 juz dalam sekali duduk. Bahkan, menangis darah pun tidak akan bisa mengubah apa yang sudah terlanjur terjadi. Oleh karena itu, para penghafal Al-Qur’an dituntut untuk selalu mengulang dan melancarkan (muraja’ah) bacaannya.

Dan meski demikian, ketatnya persyaratan tersebut justru membentuk tanggung jawab besar bagi para penghafal Al-Qur’an untuk terus menjaga hafalannya agar tidak hilang sia-sia. Sungguh melelahkan dan menyia-nyiakan usaha apabila hafalan yang telah dicapai justru ditinggalkan begitu saja. Sebab, menghafal Alquran adalah sebuah bentuk “jatuh cinta yang disengaja.”

Hingga akhirnya, puncak dari pengapresiasian perjuangan para pejuang penghafal Alquran tersebut ditandai dengan penyerahan sertifikat. Penyerahan ini merupakan apresiasi yang membanggakan bagi santri dan orangtua khususnya.

Pelajaran dari kisah ini ialah, bahwa keberhasilan mendapatkan sertifikat khatam bukanlah titik akhir. Melainkan awal dari tanggung jawab seumur hidup untuk menjaga hubungan, merawat ingatan, dan mengamalkan nilai-nilai dari kitab suci Alquran tersebut.

*) Cerpen motivasi, persahabatan, humor, hingga refleksi kehidupan karya para Santri SMP Al Furqan MQ ini, merupakan hasil praktik workshop penulisan bersama Alfian Bahri yang selalu tayang berkala tiap minggunya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Kabar Sekolah Lainnya

Pengumuman

Trial Class 2026 Dibuka !
Back To School : Langkah Baru Se...

Prestasi

Juara II Nasional Stor...
Juara 3 Banjari ISCO S...

Download App Web Sekolah

Nikmati Cara Mudah dan Menyenangkan Ketika Membaca Buku, Update Informasi Sekolah Hanya Dalam Genggaman

Download App Web Sekolah

Nikmati Cara Mudah dan Menyenangkan Ketika Membaca Buku, Update Informasi Sekolah Hanya Dalam Genggaman